Nera hanya menatap nanar layar di depannya. Cahayanya menampar wajah sayunya yang tak juga ada pergerakan sejak 15 menit yang lalu. Dan semua ini bermula sejak sebuah pesan yang dikirimkan Yun-ha, rekan kerjanya yang keturunan Korea Selatan itu. Nera ingin memahami, namun semenjak sebuah nama tersebut, Nera berubah menjadi anak disleksia.
Neraca Adelia Harsiwi, sebuah nama yang diberikan ayahnya, Anton Harsiwi hanya karena dia lahir di bulan Libra. Ayahnya ingin ia menjadi gadis yang selalu adil dan tidak bias. Nera tumbuh selayaknya gadis biasa. Tidak terlalu dramatis. Hingga suatu hari, sang ayah mulai berubah menghianati.
“Ayah, akan menikah lagi.” kata ayah.
Nera terbelalak. Dia dengar dengan jelas. Ayahnya menginginkan sesuatu yang tidak salah, tapi juga tidak benar.
“La-lalu, mamah?” tanya Nera sambil menahan getaran di tubuhnya dan lolosan air dari bola matanya.
Ayah diam, mamah pun diam. Hingga beberapa detik kemudian ayah berdiri dan mulai mengemasi beberapa barang di kamarnya. Mamah diam tanpa ekspresi. Nera bingung dengan kondisi ini. Kenapa mamah diam saja? Kenapa ayah harus pergi? Nera harus bagaimana?
“Nera, jaga mamahmu ya! Ayah pergi.” kata ayah dan kemudian menghilang ditelan portal tembus pandang di depan Nera.
Kini Nera pun ikut terdiam meskipun eluh tak kuasa lagi ia bendung. Semua terlalu cepat. Mamah yang sedari tadi diam pun tiba-tiba berdiri.
“Mamah sudah tahu?” tanya Nera di antara isak pelannya.
Mamah hanya menunduk kemudian masuk ke dalam kamarnya. Nera dipaksa untuk memahami semua ini sendiri di usia 15 tahun. Ayah yang selalu mengutamakannya, mamah yang selalu cerewet, semua lenyap begitu saja. Seakan Nera dipaksa terbangun dari sebuah mimpi dalam sekejap.
‘kriinnggg…kriiiiiinggg….kriiiiingggg…’
Bunyi alarm membangunkan Nera. Ternyata Nera benar-benar mimpi. Tidak, ini nyata! Ayahnya benar-benar pergi dan mamah tetap diam. Nera pun tersadar, sejak pesan yang dikirimkan Yun-ha semalam dia merasa makin pusing dan memutuskan untuk tidur.
Nera berusaha mengumpulkan tenaganya dengan meminum air putih di dapurnya yang begitu sepi. Baru saja dua teguk air melewati kerongkongannya, sebuah figur paruh baya lewat di belakangnya. Mamah.
Nera perhatikan setiap jengkal tubuh wanita yang melahirkannya itu. Bahkan setelah Nera berusia 25 tahun, wanita ini masih saja terlihat cantik. Tapi kenapa ayah meninggalkan mamah? Kenapa harus menikah lagi? Terlebih lagi, kenapa mereka tidak bercerai?
“Mah— “Nera, nanti mamah ke rumah budhe, hari ini peringatan 40 hari meninggalnya pakdhe. Mamah akan tidur di sana. Seperti biasa ya.” kata mamah yang lembut namun tegas hingga membuat Nera sungkan untuk berkata lebih dari sekedar “Iya mah.”
Setelah sarapan roti bakar yang terasa seperti paku itu, Nera kembali ke kamar. Ia perhatikan tumpukan kerjaan yang ia tinggalkan begitu saja semalam. Nera memang mengajukan diri untuk melakukan WFH karena seseorang. Semua pekerjaan editingnya ia selesaikan di rumah sehingga dia bisa lebih produktif.
Namun hari ini, Nera merasa berat untuk kembali menyalakan laptopnya. Dia masih merinding mengingat pesan singkat dari Yun-ha.
your bf with a girl rn.
r u sure he is sick?
Benar saja, layar di monitornya langsung menunjukkan pesan terakhir dari Yun-ha semalam. Nera belum membalasnya.
Nera sudah berpacaran dengan Nathan sejak lulus SMA. Entah bagaimana caranya, tapi Nathan yang menembak Nera dan diterima begitu saja. Tapi Nera merasa candu. Dia senang dengan perlakuan Nathan, dia selalu ingin berikan lebih untuknya.
Nera merasa bahagia karena kekosongan hatinya terpenuhi oleh Nathan. Nera merasa dicintai dan diinginkan. Dia masih berharga. Hingga akhirnya setelah pesta wisuda mereka berdua, Nera benar-benar memberikan semuanya untuk Nathan.
Nera yakin Nathan selamanya untuknya. Dia pun melakukan semua yang Nathan mau. Segalanya. Bahkan cita-citanya sebagai reporter pun pupus karena Nathan tidak mau Nera bertemu banyak orang. Nera pun akhirnya banting setir menjadi editor platform berita. Semua dikerjakan di balik kubikel kecil. Tapi masih belum cukup.
Semenjak pandemi 2020, WFH marak dilakukan demi keselamatan pekerja. Namun bagi Nathan, itu adalah cara terbaik untuk ‘menjaga’ Nera. Nathan bahkan memaksa Nera untuk mengajukan WFH permanen. Nera ragu, namun atas bujukan dan ancaman Nathan, Nera setuju.
Apakah mamah tahu? Iya. Apakah mamah peduli? Entah. Sejak 10 tahun yang lalu itu, mamah berubah menjadi zombie dan hidup hanya untuk menyambung nyawa saja. Dan mungkin untuk memastikan Nera masih hidup.
Jari Nera tergelitik untuk mengetik sesuatu. Dengan ketikan pelan penuh ragu, akhirnya Nera berhasil mengirimkan sebuah pesan :
hm, he was sick yesterday.
Sudah. Begitu saja.
Yun-ha adalah satu-satunya teman kantor Nera yang benar-benar dekat dengannya. Yun-ha adalah gadis yang supel dan peka. Dia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan hubungan Nathan dan Nera. Namun Nera tidak percaya.
Nera kemudian mulai mengetik beberapa kata, namun kali ini bukan untuk Yun-ha.
morning, babe..
r u feeling well tday?
20 menit Nera diam menatap layar yang tak juga berubah. Nera semakin gusar. Tidak mungkin kekhawatiran Yun-ha selama ini benar. Ini tidak boleh!
Yun-ha sudah merasakan yang tidak benar dari Nathan. Sejak awal Nera menceritakan tentang bagaimana mereka berpacaran pun rasanya ganjal. Setelah berpacaran, Nera selalu yang melakukan lebih. Bahkan Nera sering menjemput Nathan, membelikan sesuatu untuk Nathan, memanjakan Nathan, dan lain sebagainya. Yah, sejak mamah sendiri, dia kembali bangkit menjadi wanita karir yang cukup sukses di bidang finance. Keuangan Nera sama sekali tidak terganggu. Tapi tidak dengan hati Nera.
Mamah lebih fokus kepada pekerjaannya. Seakan memendam semua sakitnya dalam tumpukan kerja dan prestasi barunya. Hanya Nathan yang ada di sampingnya, menemaninya. Nera pun semakin terikat padanya.
Yun-ha sering sekali memergoki Nathan melakukan penghianatan. Tapi Nera tidak percaya. Selama Nathan masih bersamanya, tidak mungkin dia berkhianat. Tidak mungkin!
‘Ting!’
Lamunan Nera pun buyar. Ah, notifikasi pesan ternyata. Nera cukup bersemangat melihat nama pengirimnya, My Love <3
Ner, let’s break up!
Aku bertemu gadis yang selama
ini aku cari.
Lepasin aku ya.
Jangan galau lama-lama!
Pandangan Nera buyar. Sekelebat memori 10 tahun lalu seperti kembali terproyeksi. Tanpa alasan, tanpa masalah. Kenapa pergi? Apa salah Nera? Apa kurang Nera? Segalanya sudah Nera berikan padanya.
Mamah sudah pergi sejak 15 menit yang lalu. Nera sendiri. Suasana pun semakin sepi. Tapi tidak dengan otak Nera. Suara-suara semakin ramai memenuhi kepalaya. Bahwa Nera yang salah, bahwa Nera yang bodoh, bahwa Nera yang tidak pantas untuk mendapatkan cinta, bahwa Nera harusnya mati saja.
Langit semakin gelap dan Nera sudah 8 jam meringkuk sendiri di pojok kamarnya. Masih tampak mata bengkaknya dari semburat senja di tepi jendela kamarnya di lantai 2. Nera masih tak paham. Kenapa?
Nera sudah lakukan semua. Nera tidak pernah menolak. Nera tidak pernah meragukan. Tapi Nera masih saja dihancurkan.
Tatapan mata Nera mulai beranjak ke arah meja kerjanya yang masih berantakan. Sebuah kilatan kecil terlihat dari sebuah benda metal yang tajam di sana. Nera tertarik. Dia pun mulai menghampiri.
Tidak terlalu besar, tapi Nera yakin ini adalah sebuah pesan terakhir yang bermakna untuk Nathan, ayah, dan dunia yang begitu kejam padanya.
Tidak butuh keraguan dan waktu lama, Nera berdiri di jendela dengan tangan kanan memegang benda metal itu.
“Lepaskan aku Tuhan, aku lelah.” bisiknya dalam hati.
Nera akhirnya menggosokkan benda metal itu ke urat nadi kirinya kemudian menghempaskan dirinya ke arah angin yang berhembus dari lantai dua kamarnya.
Uniknya, Nera justru mendengar suara ayahnya berteriak. Diiringi dengan suara mamah yang histeris. Sayup-sayup suara Yun-ha juga muncul. Tapi tidak dengan Nathan. Ah, sialan! Nathan bahkan tidak mau memunculkan suaranya.
‘Bukkkk!!!’
Tubuh Nera menyatu dengan rumput di lantai satu. Namun segera diangkat kembali oleh badan besar nan hangat namun terasa renta. Nera masih bisa mencium bau ini. Dia ingat. Ayah.
Dengan tenaga yang tersisa Nera membuka mata. Ayah mendekapnya dengan erat penuh tangis penyesalan, mamah histeris di sebelahnya dan Yun-ha panik menelfon ambulan. Bajingan! Nera sepertinya masih dipaksa untuk menikmati episode baru kekosongan hidupnya. Dan dunia Nera pun semakin gelap.
Haewon J.
Ponorogo, 7 Februari 2026

.jpeg)

.jpeg)