Sabtu, 07 Februari 2026

KOSONG

Nera hanya menatap nanar layar di depannya. Cahayanya menampar wajah sayunya yang tak juga ada pergerakan sejak 15 menit yang lalu. Dan semua ini bermula sejak sebuah pesan yang dikirimkan Yun-ha, rekan kerjanya yang keturunan Korea Selatan itu. Nera ingin memahami, namun semenjak sebuah nama tersebut, Nera berubah menjadi anak disleksia.


Neraca Adelia Harsiwi, sebuah nama yang diberikan ayahnya, Anton Harsiwi hanya karena dia lahir di bulan Libra. Ayahnya ingin ia menjadi gadis yang selalu adil dan tidak bias. Nera tumbuh selayaknya gadis biasa. Tidak terlalu dramatis. Hingga suatu hari, sang ayah mulai berubah menghianati.


“Ayah, akan menikah lagi.” kata ayah.


Nera terbelalak. Dia dengar dengan jelas. Ayahnya menginginkan sesuatu yang tidak salah, tapi juga tidak benar.


“La-lalu, mamah?” tanya Nera sambil menahan getaran di tubuhnya dan lolosan air dari bola matanya.


Ayah diam, mamah pun diam. Hingga beberapa detik kemudian ayah berdiri dan mulai mengemasi beberapa barang di kamarnya. Mamah diam tanpa ekspresi. Nera bingung dengan kondisi ini. Kenapa mamah diam saja? Kenapa ayah harus pergi? Nera harus bagaimana?


“Nera, jaga mamahmu ya! Ayah pergi.” kata ayah dan kemudian menghilang ditelan portal tembus pandang di depan Nera.


Kini Nera pun ikut terdiam meskipun eluh tak kuasa lagi ia bendung. Semua terlalu cepat. Mamah yang sedari tadi diam pun tiba-tiba berdiri.


“Mamah sudah tahu?” tanya Nera di antara isak pelannya.


Mamah hanya menunduk kemudian masuk ke dalam kamarnya. Nera dipaksa untuk memahami semua ini sendiri di usia 15 tahun. Ayah yang selalu mengutamakannya, mamah yang selalu cerewet, semua lenyap begitu saja. Seakan Nera dipaksa terbangun dari sebuah mimpi dalam sekejap.


‘kriinnggg…kriiiiiinggg….kriiiiingggg…’


Bunyi alarm membangunkan Nera. Ternyata Nera benar-benar mimpi. Tidak, ini nyata!  Ayahnya benar-benar pergi dan mamah tetap diam. Nera pun tersadar, sejak pesan yang dikirimkan Yun-ha semalam dia merasa makin pusing dan memutuskan untuk tidur.


Nera berusaha mengumpulkan tenaganya dengan meminum air putih di dapurnya yang begitu sepi. Baru saja dua teguk air melewati kerongkongannya, sebuah figur paruh baya lewat di belakangnya. Mamah.


Nera perhatikan setiap jengkal tubuh wanita yang melahirkannya itu. Bahkan setelah Nera berusia 25 tahun, wanita ini masih saja terlihat cantik. Tapi kenapa ayah meninggalkan mamah? Kenapa harus menikah lagi? Terlebih lagi, kenapa mereka tidak bercerai?


“Mah— “Nera, nanti mamah ke rumah budhe, hari ini peringatan 40 hari meninggalnya pakdhe. Mamah akan tidur di sana. Seperti biasa ya.” kata mamah yang lembut namun tegas hingga membuat Nera sungkan untuk berkata lebih dari sekedar “Iya mah.”


Setelah sarapan roti bakar yang terasa seperti paku itu, Nera kembali ke kamar. Ia perhatikan tumpukan kerjaan yang ia tinggalkan begitu saja semalam. Nera memang mengajukan diri untuk melakukan WFH karena seseorang. Semua pekerjaan editingnya ia selesaikan di rumah sehingga dia bisa lebih produktif.


Namun hari ini, Nera merasa berat untuk kembali menyalakan laptopnya. Dia masih merinding mengingat pesan singkat dari Yun-ha.


your bf with a girl rn.

r u sure he is sick?


Benar saja, layar di monitornya langsung menunjukkan pesan terakhir dari Yun-ha semalam. Nera belum membalasnya.


Nera sudah berpacaran dengan Nathan sejak lulus SMA. Entah bagaimana caranya, tapi Nathan yang menembak Nera dan diterima begitu saja. Tapi Nera merasa candu. Dia senang dengan perlakuan Nathan, dia selalu ingin berikan lebih untuknya.


Nera merasa bahagia karena kekosongan hatinya terpenuhi oleh Nathan. Nera merasa dicintai dan diinginkan. Dia masih berharga. Hingga akhirnya setelah pesta wisuda mereka berdua, Nera benar-benar memberikan semuanya untuk Nathan.


Nera yakin Nathan selamanya untuknya. Dia pun melakukan semua yang Nathan mau. Segalanya. Bahkan cita-citanya sebagai reporter pun pupus karena Nathan tidak mau Nera bertemu banyak orang. Nera pun akhirnya banting setir menjadi editor platform berita. Semua dikerjakan di balik kubikel kecil. Tapi masih belum cukup.


Semenjak pandemi 2020, WFH marak dilakukan demi keselamatan pekerja. Namun bagi Nathan, itu adalah cara terbaik untuk ‘menjaga’ Nera. Nathan bahkan memaksa Nera untuk mengajukan WFH permanen. Nera ragu, namun atas bujukan dan ancaman Nathan, Nera setuju.


Apakah mamah tahu? Iya. Apakah mamah peduli? Entah. Sejak 10 tahun yang lalu itu, mamah berubah menjadi zombie dan hidup hanya untuk menyambung nyawa saja. Dan mungkin untuk memastikan Nera masih hidup.


Jari Nera tergelitik untuk mengetik sesuatu. Dengan ketikan pelan penuh ragu, akhirnya Nera berhasil mengirimkan sebuah pesan : 


hm, he was sick yesterday.


Sudah. Begitu saja.


Yun-ha adalah satu-satunya teman kantor Nera yang benar-benar dekat dengannya. Yun-ha adalah gadis yang supel dan peka. Dia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan hubungan Nathan dan Nera. Namun Nera tidak percaya.


Nera kemudian mulai mengetik beberapa kata, namun kali ini bukan untuk Yun-ha.


morning, babe..

r u feeling well tday?


20 menit Nera diam menatap layar yang tak juga berubah. Nera semakin gusar. Tidak mungkin kekhawatiran Yun-ha selama ini benar. Ini tidak boleh!


Yun-ha sudah merasakan yang tidak benar dari Nathan. Sejak awal Nera menceritakan tentang bagaimana mereka berpacaran pun rasanya ganjal. Setelah berpacaran, Nera selalu yang melakukan lebih. Bahkan Nera sering menjemput Nathan, membelikan sesuatu untuk Nathan, memanjakan Nathan, dan lain sebagainya. Yah, sejak mamah sendiri, dia kembali bangkit menjadi wanita karir yang cukup sukses di bidang finance. Keuangan Nera sama sekali tidak terganggu. Tapi tidak dengan hati Nera.


Mamah lebih fokus kepada pekerjaannya. Seakan memendam semua sakitnya dalam tumpukan kerja dan prestasi barunya. Hanya Nathan yang ada di sampingnya, menemaninya. Nera pun semakin terikat padanya.


Yun-ha sering sekali memergoki Nathan melakukan penghianatan. Tapi Nera tidak percaya. Selama Nathan masih bersamanya, tidak mungkin dia berkhianat. Tidak mungkin!


‘Ting!’


Lamunan Nera pun buyar. Ah, notifikasi pesan ternyata. Nera cukup bersemangat melihat nama pengirimnya, My Love <3


Ner, let’s break up!

Aku bertemu gadis yang selama

ini aku cari.

Lepasin aku ya.

Jangan galau lama-lama!


Pandangan Nera buyar. Sekelebat memori 10 tahun lalu seperti kembali terproyeksi. Tanpa alasan, tanpa masalah. Kenapa pergi? Apa salah Nera? Apa kurang Nera? Segalanya sudah Nera berikan padanya.


Mamah sudah pergi sejak 15 menit yang lalu. Nera sendiri. Suasana pun semakin sepi. Tapi tidak dengan otak Nera. Suara-suara semakin ramai memenuhi kepalaya. Bahwa Nera yang salah, bahwa Nera yang bodoh, bahwa Nera yang tidak pantas untuk mendapatkan cinta, bahwa Nera harusnya mati saja.


Langit semakin gelap dan Nera sudah 8 jam meringkuk sendiri di pojok kamarnya. Masih tampak mata bengkaknya dari semburat senja di tepi jendela kamarnya di lantai 2. Nera masih tak paham. Kenapa?


Nera sudah lakukan semua. Nera tidak pernah menolak. Nera tidak pernah meragukan. Tapi Nera masih saja dihancurkan.


Tatapan mata Nera mulai beranjak ke arah meja kerjanya yang masih berantakan. Sebuah kilatan kecil terlihat dari sebuah benda metal yang tajam di sana. Nera tertarik. Dia pun mulai menghampiri.


Tidak terlalu besar, tapi Nera yakin ini adalah sebuah pesan terakhir yang bermakna untuk Nathan, ayah, dan dunia yang begitu kejam padanya.


Tidak butuh keraguan dan waktu lama, Nera berdiri di jendela dengan tangan kanan memegang benda metal itu.


“Lepaskan aku Tuhan, aku lelah.” bisiknya dalam hati.


Nera akhirnya menggosokkan benda metal itu ke urat nadi kirinya kemudian menghempaskan dirinya ke arah angin yang berhembus dari lantai dua kamarnya.


Uniknya, Nera justru mendengar suara ayahnya berteriak. Diiringi dengan suara mamah yang histeris. Sayup-sayup suara Yun-ha juga muncul. Tapi tidak dengan Nathan. Ah, sialan! Nathan bahkan tidak mau memunculkan suaranya.


‘Bukkkk!!!’


Tubuh Nera menyatu dengan rumput di lantai satu. Namun segera diangkat kembali oleh badan besar nan hangat namun terasa renta. Nera masih bisa mencium bau ini. Dia ingat. Ayah.


Dengan tenaga yang tersisa Nera membuka mata. Ayah mendekapnya dengan erat penuh tangis penyesalan, mamah histeris di sebelahnya dan Yun-ha panik menelfon ambulan. Bajingan! Nera sepertinya masih dipaksa untuk menikmati episode baru kekosongan hidupnya. Dan dunia Nera pun semakin gelap.




Haewon J.

Ponorogo, 7 Februari 2026


Minggu, 22 Juni 2025

Thirty Two

Di bulan aku menjadi tiga dua
Aku merasa memasuki dunia yang berbeda
Apa ya namanya?
Entahlah, apa maknanya

Tahun yang penuh dengan hal tak terduga
Tiga satu dengan jutaan coba
Kukira memang begini takdirnya
Atau sebenarnya Tuhan sedang menunjukkan jalan pulangnya

Tiga dua
Yang satu sudah menjadi dua
Masih berjuang memahami dia
Begitu juga dunianya

Kiranya memang sudah tak lagi muda
Tapi harus dipaksa di badan muda
Terlalu banyak hal yang sayang untuk dilewatkan
Berdua ataupun sendirian

Versiku masih banyak belum dicoba
Rasanya rugi jika tidak melawan dunia
Namun kurasa ada yang perlu kembali dievaluasi
Bagaimana aku berterima kasih pada Tuhan atas hidup ini

Masih harus banyak aku melangkah
Karena tanah masih basah
Sambut tanganku Tuhan
Seluruh hidupku padaMu ku serahkan

L
Ponorogo, 22 Juni 2025

Sabtu, 02 November 2024

Crossroad

Dia beda
Ku kira hanya wajahnya, nyatanya semua..
Di mana saja dia ini?
Kenapa baru ku temui dia di sini

Puluhan tahun berlalu dan masih dengan kesan yang sama
Malaikat mana yang kehilangan sayapnya kutanya
Tidak mungkin dia manusia
Tuhan terlalu pilih kasih menciptakan keindahannya

Si mulut ganda dengan berbagai keajaibannya ini diam
Bukan karena singa akan menerkam
Tapi sebuah kelembutan yang mendekap
Tutur kata indah yang terus mencuat

Inikah yang Tuhan pernah sebut sebagai anugerah?
Si fakir cinta bisa merasakan kasih
Si manusia paling dibenci merasa dicintai
Selalu sendiri kini ada yang menemani

Kuat ku rekatkan tanganku padanya
Mana mau aku lepaskan dia
Kecuali untuk yang terbaik dari yang terbaik
Tak akan ada yang bisa mengusik

Nyatanya ada persimpangan di dalam hati
Ternyata butuh aku atas dia
Tapi simpangan ini terlalu kompleks
Detektif mana yang mampu tunjukkan kebenarannya?

Tuhan!
Sama tapi beda
Beda tapi sama
Fakta tak mungkin terelak dunia

Melepas ikatan ini ternyata tak semudah rencana
Bukan aku tak ikhlas
Aku hanya belum siap kehilangan napas
Oksigenku akan hilang separuh, terhempas nyata tak mungkin bersama

Bahagialah, biarkan aku tetap di persimpangan ini sendiri
Menanti kehadiran napas baru
Meskipun masih ku harap itu seperti dirimu...


L
Ponorogo, 2 November 2024

Minggu, 20 Oktober 2024

Surat Cintaku

Selamat pagi..
Bagaimana keadaan surga?
Masihkah malaikat menemani harimu?
Masihkah udara segar menembus parumu?

Di sini sama saja..
Masih dengan udara kering yang menyesak
Masih dengan duka lama yang sama
Kami baik-baik saja

Aku yang kau jadikan hebat
Nyatanya masih sering menyambat
Bi, aku ternyata belum benar-benar kuat
Satu ketukan saja, jantungku sudah loncat

Berat ya Bi...
Tapi kenapa tak satupun suara yang kudengar
dari kenangmu selama ini?
Sesunyi itukah kenangan kita?
Atau telingaku saja yang sudah pengar dengan dunia?

Aku lelah Bi,
Tapi aku belum boleh menyerah
Masih ada dua jiwa yang tersisa
Untukku selalu dijaga

Sepertinya mereka baik Bi..
Semoga....
Segala eluh dan peluhku tak ada sia-sia
Akan ku korbankan segalanya

Tapi sekejap saja, aku ingin didengar
Lelahku ingin tersamar
Senyumku ingin melebar
Meskipun aku masih harus banyak bersabar

Bi, bolehkah aku tidur sejenak?
Meninggalkan tanggung jawab berat kehidupan
Sebelum lagi aku kembali berperang
Karena jalanku masih tersamar arang

Tapi Bi, aku baik-baik saja
Aku punya malaikat bernama sahabat
Yang relakan segalanya untuk melihatku tertawa
Yang akan menggenggamku sebelum terlambat

Terima kasih untuk semuanya Bi...
Meskipun lelah, semua ini tetaplah berarti
Karena selalu ku bayang pelukan hangatmu
Saat kita kembali bersatu

Tunggu aku........


Ponorogo, 20 Oktober 2024
L

Minggu, 21 Januari 2024

L

Saat itu kukira indah
Saat itu kukira mudah
Menikmati rasa pemberian Tuhan
Bermain-main dengan kenyataan
Merasa hidup sudah melebihi harapan

Waktu berlalu terlalu jauh dari perkiraan
Senja sudah berubah menjadi kegelapan
Namun mataku tertuju pada sebuah bayangan
Ku ikuti ke mana dia pergi
Ku turuti apa maunya kini

Di ujung jalan itu ku lihat nyata
Masa lalu kita, cerita bahagia bersama
Sungguh tak ku sadari
Ternyata aku berjalan sendiri
Aku mencinta sendiri

Pandainya dirimu bermain peran
Hingga tak kusadari bahwa aku hanya figuran
Bodoh aku tak melihat kenyataan
Aku terlalu buta pada angan-angan

Kita terlalu indah untuk menjadi nyata
Dan terlalu perih untuk jadi selamanya......


Ponorogo, 21 Januari 2023
L

Kamis, 26 Oktober 2023

BERSAMAMU

Hongju dan Hongjun sudah berjanji akan selalu bersama. Janji mereka terukir di salah satu sudut sekolah menangah atas di desa mereka. Mereka bukan kembar maupun saudara. hanya sahabat yang saling berbagi suka maupun duka.

Choi Hongju, gadis berusia 23 tahun lulusan fashion designer universitas wanita tersohor di Korea, kini sedang menikmati masa magangnya di sebuah perusahaan majalah fashion yang berbasis di Korea. Meskipun melelahkan dan penuh perploncoan, Hongju tetap menikmati pekerjaannya karena sesekali dia dapat bertemu idol kesukaannya.

Setiap hari Hongju sendirian melewati jalan kecil menuju apartemen kecilnya. Ruangan yang cukup sekedar merebahkan badan, makan, dan mandi. Tapi Hongju masih tetap bersyukur karena kini dia bisa mengirimkan sebagian gajinya untuk orang tuanya di desa.

Keesokan harinya, meskipun ini adalah hari libur Hongju tetap bersiap dengan dandanan tipis namun segar. Selama perjalanan menuju halte bus, Hongju sesekali menggumamkan nada lagu aransemennya sendiri. Hongju sangat menantikan hari ini sejak dua tahun yang lalu.

Setelah berganti bus beberapa kali, akhirnya Hongju sampai di sebuah tempat di pinggiran Korea Selatan yang berdekatan dengan Korea Utara. Di salah satu pemberhentian bus, Hongju bahkan menyempatkan diri membeli sebuket bunga.

Hongju semakin dekat dengan keramaian. Hongju juga akhirnya bertemu bibi Yongsun dan paman Hwijae. Butuh waktu sekitar 45 menit hingga akhirnya Hongju bisa meneriakkan suaranya. "JANG HONGJUN!!!!" Dua manusia itu mendekatkan tubuh mereka hingga menjadi satu, saling bertukar rindu.

"Hei, Choi Hongju! Kenapa kamu semakin pendek dan kecil?" seru Hongjun. Hongju mencebik kesal dan Hongjun membalasnya dengan mengacak rambut Hongju sambil tertawa. "Ayo makan tteokbokki! Bibi sudah ijinkan kita main." ajak Hongju. Hongjun menanggapinya dengan anggukan senang.

Sampailah mereka di sebuah kedai yang penuh dengan remaja dan anak kuliahan. Hongju sangat sibuk mengunyah sembari berpidato tentang update kehidupan kepada Hongjun. Hongjun seakan terbiasa dengan hal ini hanya menatap Hongju lucu sambil melahap makanan kenyal di depannya.

"Hongju-ya, kenapa kau masih jomblo? Kau sudah 23 tahun!Lihatlah aku! Aku saja wamil bisa punya pacar, kenapa kau tidak?" Hongju sempat terdiam sejenak berpura-pura berpikir. "Hongjun-ah, kau pikir ini saatnya berkencan? Sudah cepat selesaikan kuliahmu dan kerjalah! Pacarmu bahkan sudah semakin sukses sekarang." Hongjun sedikit tertawa tertampat kenyataan. Yah, dia menunda kuliahnya untuk wamil dulu.

Dua tahun setelah hari itu, Hongju sekali lagi bersiap dengan buket bunga di tangannya. Lagi-lagi masih bersama bibi Yongsun dan paman Hwijae. Setelah menunggu prosesi selama satu jam, Hongju melihat sosok yang amat dikenalnya sejak 10 tahun yang lalu itu. "JANG HONGJUN!!!!" de-javu. Skenario yang sama benar-benar terulang lagi. Satu-satunya yang berbeda adalah kali ini mereka berada di kedai barbeque yang terkenal di Seoul.

"Hongjun-ah, setelah ini kau mau melamar ke mana?" tanya Hongju. "Melamar pacarku." jawab Hongjun enteng. Hongju terdiam , terbelalak tak percaya. "Jangan bercanda kau! Dasar gila!" Hongjun tertawa melihat kemarahan Hongju. "Mungkin belum melamar, tapi aku ingin bertemu langsung dengannya. Ayolah, kami sudah pacaran 3 tahun, masa belum pernah ketemu langsung!" Hongju hanya membalas dengan deheman pelan kemudian menundukkan muka sambil melahap makanannya.

Sejak dialog itu mereka cukup malas untuk berbicara lagi. Mungkin karena daging yang mereka bakar terlalu lezat atau ada sesuatu yang tersembunyi di dalam hati. Hingga 30 menit kemudian mereka berpisah karena arah rumah mereka berlawanan.

"Sampai jumpa lagi Hongju-ya! Nanti akan ku traktir lagi kalau sudah dapat kerja dan bertemu pacarku." Hongju tersenyum. "Oke, aku pegang janjimu." Mereka pun berbalik arah satu sama lain. Dua puluh langkah berjalan, Hongju berhenti dan membalikkan tubuhnya. Menyaksikan Hongjun semakin menjauh.

Ada rahasia yang Hongjun belum tahu. Kekasih Hongjun adalah Hongju. Hongju memang jarang memakai make up dan sekalinya ia memoleskan make up di wajahnya, ia akan nampak sangat berbeda. Tanpa sengaja Hongjun menemukan akunnya di sebuah aplikasi dating. Saat itu Hongjun sedang libur wamil. Hongju memang tidak menggunakan nama aslinya dan memilih Lee Hana sebagai personanya.

Siapa yang sangka Hongjun benar-benar jatuh cinta pada sosok Lee Hana ini? Hongju sedikit merasa bersalah namun dia juga menikmati, karena sebenarnya dia juga menyukai Hongjun, sahabatnya. Rumit, tapi Hongju tahu ini adalah resiko yang harus dia tanggung karena tidak mau jujur akan perasaannya. Sosok Hongjun semakin menjauh dan tak lagi terlihat oleh Hongju. Mungkin Hongju harus segera jujur pada Hongjun.

Di sisi lain, Hongjun menghentikan langkahnya setelah melewati sebuah belokan. Pikirannya sedang kalut. Dia takut sudah menyakiti perasaan Hongju. Yah, sebenarnya Hongjun juga menyukai Hongju. Tapi Hongjun ragu untuk menyatakan perasaannya.

Pacar? Hanya senjata Hongjun untuk mengetes Hongju saja. Dia sengaja mencari pacar yang sulit bertemu (LDR) agar dia tidak perlu repot-repot bertemu. Pengecut memang, tapi Hongjun tak mampu berpikir jernih jika membahas Choi Hongju. Dia sudah sangat jatuh cinta padanya bahkan sejak masih berseragam yang sama.

Entahlah, siapa yang akan jujur terlebih dahulu akan perasaan mereka.



Surabaya, 26 Oktober 2023

Jung Haewon





Selasa, 17 Januari 2023

IMPERFECTION

Bukan kewajiban kita menjadi sempurna
Meski dunia akan tetap memaksa kita sempurna
Tapi, bagaimana caranya jadi sempurna?
Nyatanya kita selalu salah di mata manusia

Dia hanya mau perhatian
Lihat saja bajunya!
Dia bukan apa-apa selain keluarganya
Ah, aku berharap banyak padamu

Kenapa aku masih saja salah?
Sebenarnya di mana letak salahnya?
Aku sudah melaksanakan titah
Kenapa tidak ada balasnya?

Siapa yang salah?
Manusia dengan hati lembut?
Manusia dengan mulut kasar?
Atau justru dia yang diam saja?

Aku juga tidak sempurna
Mereka juga tidak sempurna
Tapi masih saja aku mendengarnya
Suara penuh cela dan hina

Suara itu tidak selalu datang tiap hari
Hanya saja sekali berkunjung cukup menguras waktu
Tapi siapa yang bicara itu?
Keluar sini ayo kita berkelahi!

Hentikan omong kosongmu itu!
Aku tidak akan pernah sempurna untuk mereka
Mereka juga tidak akan jadi sempurna kepadaku
Tapi bukankah itu manusia?
Jadi diamlah sana!

Ponorogo, 17 Januari 2023
Haewon

KOSONG

Nera hanya menatap nanar layar di depannya. Cahayanya menampar wajah sayunya yang tak juga ada pergerakan sejak 15 menit yang lalu. Dan semu...